Pemanfaatan Limbah Tempurung Kelapa Sawit Sebagai Campuran Bahan Bakar Diesel

Ketergantungan bahan bakar fosil sebagai sumber energi cukup besar. Bahan bakar fosil tersebut digunakan hampir di seluruh sektor kehidupan manusia sehingga konsumsi energi semakin meningkat dari tahun ke tahun, kebutuhan bahan bakar fosil seirig dengn bertambahnya jumlah manusia dari tahun ke tahun. Dalam laporannya, Kementerian ESDM mencatat bahwa konsumsi energi final pada skenario dasar diperkirakan tumbuh rata-rata 6,7% per tahun (ESDM, 2009). Pada akhir tahun 2009, konsumsi energi final di Indonesia mencapai angka sekitar 893.756.219 BOE (ESDM, 2010). Di sisi lain, menipisnya cadangan sumber energi fosil dan meningkatnya kerusakan lingkungan akibat penggunaan energi fosil telah menjadi ancaman. cadangan minyak bumi yang ada diproduksikan dengan tingkat produksi saat ini maka cadangan minyak bumi segera habis (BPmigas, 2011). kondisi tersebut sangat merisaukan sehingga sangat diperlukan penelitian yang intens untuk mengoptimalkan dan menggunakan sumber energi terbarukan.

Limbah Tempurung Kelapa Sawit Sebagai Campuran Bahan Bakar Diesel

Limbah Tempurung Kelapa Sawit Sebagai Campuran Bahan Bakar Diesel

Salah satu sumber energi terbarukan yang dewasa ini menjadi perhatian besar di banyak negara adalah biomasa. Potensi Indonesia dalam menyediakan biomasa sangatlah besar mengingat status Indonesia sebagai negara agraris yang menghasilkan produk pertanian dan kehutanan yang melimpah tiap tahunnya. Dari sektor perkebunan 0Indonesia adalah penghasil minyak kelapa sawit terbesar kedua didunia setelah Malaysia. Dalam industri pengolahan kelapa sawit atau CPO (Crude Paim Oil) akan diperoleh limbah industri (Purwanto, 2011). Limbah industri kelapa sawit adalah sisa hasil tanaman kelapa sawit yang tidak termasuk dalam produk utama atau merupakan hasil ikutan dari proses pengolahan kelapa sawit. Limbah ini digolongkan menjadi limbah padat, cair dan gas. Salah satu limbah dari industri kelapa sawit adalah cangkang kelapa sawit, yang mana pemanfaatannya belum maksimal (Elykurniati, 2011).

Menurut Ibrahim dkk (2015) dalam penelitiannya menjelaskan nilai kalor rata- rata untuk setiap rasio sebagai berikut: cangkang100%= 23.529,47kj/kg, Serabut 100% = 20.588,26 kj/kg, tandan kosong 100%=18.382,39 kj/kg, Cangkang 20%, Serabut 80%= 21.568,67 kj/kg, Cangkang 0%,Serabut 80%, Tandan 20%= 18.137,30 kj/kg. Tentang cangkang sawit kamu bisa cek di Indonesia Palm Kernel Shell.

Cara termudah mengubah limbah biomassa cangkang kelapa sawit menjadi energi yaitu dengan membakarnya langsung sehingga menghasilkan arang aktif. Industri arang di Indonesia saat ini hanya mengutamakan arang sebagai produknya, sedangkan sisanya sekitar 70-80% berupa limbah uap dan gas dibuang bebas ke udara sebagai polutan. Nilai kalor yang terkandung pada arang relatif masih rendah sehingga untuk meningkatkan nilai kalornya dapat dilakukan proses pirolisis. Dari proses pirolisis dapat dihasilkan asap cair atau bio-oil serta arang karbon yang dapat digunakan dan bernilai ekonomis. Pirolisis adalah dekomposisi kimia bahan organik melalui proses pemanasan tanpa atau sedikit oksigen. Material mentah akan mengalami proses pemecahan struktur kimia menjadi fase gas. Proses pirolisis ini bahan baku berupa limbah organik (biomassa) akan terdekomposisi menjadi arang, asap cair, dan syngas .

Limbah cangkang kelapa sawit merupakan sumberdaya yang belum banyak termanfaatkan sebagai minyak. Menjadikan limbah cangkang kelapa sawit sebagai salah satu bahan yang ideal untuk diolah menjadi minyak sebagai energi terbarukan. Untuk itu perlu dilakukan penelitian lebih lanjut guna dapat mengubah limbah tersebut menjadi sumberdaya yang mempunyai nilai manfaat dan ekonomis yaitu dengan memanfaatkannya sebagai minyak. Mc Hugh (2015) dalam penelitiannya menjelaskan Metode dalam menghasilkan energy dari bahan bakar biomasa diantaranya adalah Steam Methane Reforming (SMR), Partial Oxidation/Autothermal Reforming Of Methane, Coal Gasification, Biomas Pirolisis/Gasification Penelitian ini sudah banyak dilakukan oleh peneliti. Penelitian kali ini lebih difokuskan pada pirolisis cangkang kelapa sawit menjadi minyak sebagai campuran bahan bakar diesel dengan variasi temperatur, kemudian diuji sifat minyaknya.

Leave a Reply